Aku menulis maka aku belajar

Wednesday, May 30, 2018

Buka Puasa Bersama Jamaah Masjid As Salamah: Melampaui Seremonial

"Beta senang skali karena bapa pandeta bisa ada sama-sama deng katong. Su lama skali beta rindu acara bagini di kalangan katong orang-orang kacil. Bukan yang besar-besar, yang cuma diikuti oleh para elit," demikian seungkap rasa Haji Labuka, Imam Masjid As Salamah di kawasan Pohon Mangga, Air Salobar, Pulau Ambon.

Kami berbincang hangat sembari menikmati hidangan buka puasa bersama paguyuban masyarakat Pohon Mangga Air Salobar. Ada menu lontong dan sate, soto, dan penganan lokal buatan ibu-ibu di sana. Siraman hujan deras menahan kami dalam kehangatan percakapan yang panjang. Beta beruntung mendapat kesempatan ini sebagai Pembantu Rektor III UKIM yang memenuhi undangan mengikuti acara ini.

Haji Labuka menyatakan bahwa acara berbuka puasa semacam ini baru pertama kali dilakukan dengan melibatkan semua warga jamaah dari tujuh RT yang ada di kawasan tersebut. Kalau acara-acara sejenis yang mengundang para pejabat dari berbagai instansi sipil dan militer sudah sering dilakukan. Yang membedakan kali ini adalah partisipasi seluruh warga tanpa pengecualian. Pernyataan Imam Masjid As-Salamah makin ditegaskan dengan banyaknya warga jamaah yang memenuhi bagian dalam masjid. Hujan deras yang mengguyur sore itu tak membuat langkah-langkah mereka surut.

Acara buka puasa bersama ini diinisiasi oleh warga setempat yang lokasi tinggalnya berbatasan dengan komunitas Kristen Jemaat GPM Bethesda. Beberapa waktu silam sempat terjadi insiden saling lempar batu dari dua kelompok pemuda di situ. Momen buka puasa bersama ini pun hendak digunakan sebagai saat untuk merajut tali silaturahmi dan persaudaraan yang bagi warga setempat sangat dibutuhkan untuk terus mengikis kesalahpahaman-kesalahpahaman kecil yang dapat berujung pada bentrokan-bentrokan fisik berskala besar.

Paguyuban dua masyarakat ini merupakan bagian dari unsur-unsur masyarakat dalam program Polmas, yaitu pendekatan polisi dalam melaksanakan tugasnya dengan memfokuskan pada pemecahan masalah bukan semata-mata terhadap penegakan hukum namun bagaimana menyelesaikan atau mengurangi dampak masalah yang ada di masyarakat dengan cara melibatkan dan mengajak masyarakat yang peduli dengan keamanan dan ketertiban di wilayah, lingkungan dan tempat tinggal masing-masing dengan cara yang efektif dan efisien.

Terlepas dari upaya aparat kepolisian untuk menjadikan kawasan yang sempat "panas" pada masa-masa konflik Ambon silam ini sebagai kawasan yang makin kondusif, harus diakui bahwa pendekatan keamanan secara struktural-hierarkis tidak akan pernah bisa mengatasi akar-akar masalah kesenjangan relasi sosial di situ tanpa suatu keinginan dan keterbukaan untuk melakukan perjumpaan kemanusiaan.

Momen berbuka puasa bersama dengan melibatkan seluruh unsur-unsur sosial dua komunitas (Islam dan Kristen) di Air Salobar ini ternyata meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya pemikiran yang terbuka dan tindakan yang komunikatif untuk melampaui kecurigaan dan kesalahpahaman yang masih terasa residunya bagi dua komunitas tersebut. Momen ini menjadi perjumpaan kemanusiaan yang terasa bergerak menjauh dari dan tak lagi berada pada ranah-ranah abstraksi keagamaan yang kerap hanya menjadi slogan-slogan basi dalam khotbah-khotbah di rumah-rumah ibadah. Momen perjumpaan yang hangat, sehangat siraman kuah soto yang kami nikmati seraya bertukar cerita dan pengalaman.

Selamat menjalani ibadah puasa!
Read more ...

Saturday, May 19, 2018

Sibak Laut Biru Aru

Selama dua bulan, 34 mahasiswa Fakultas Teologi (semester ke-8) menjalani program "hidup-bersama" (live-in) di 16 masyarakat (jemaat) di wilayah Klasis GPM Aru Tengah. Beta merasa beruntung bisa menjadi bagian dari tim pembina yang ditugaskan untuk menjemput mereka kembali ke Ambon (10-14 Mei 2018). Lalu selanjutnya mereka akan menjalani program pelatihan tahap berikut di Negeri Kamal, Seram Bagian Barat.

Penerbangan dari Ambon menuju Dobo, ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, memakan waktu 1,5 jam. Setelah menginap semalam di rumah pastori Sekretaris Klasis Pulau-pulau Aru, Pdt. Henkie Mussa, keesokan harinya beta dan Pdt. Sonny Romkeny bertolak menuju Benjina dengan menumpang kapalmotor yang oleh masyarakat setempat disebut "palembang". Nama yang unik namun hampir semua orang yang ditanyai mengapa dinamai itu, tak seorang pun bisa memberi jawaban pasti. Dugaan yang membayang hanyalah kemungkinan bahwa "orang palembang" yang konon merintis mengoperasikan kapalmotor jenis ini di perairan Aru. Pelayaran dengan "palembang" dari Dobo (Pulau Wamar) ke Benjina (Pulau Kobror) memakan waktu sekitar 2 jam.
Ada dua lokasi dermaga untuk merapat. "Palembang" bisa sandar pada satu bagian pantai yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai "dermaga batu", karena hanya pada satu bagian pantai yang kontur batuan alam memungkinkan untuk orang turun-naik dari/ke "palembang". Atau yang lain, "dermaga kayu" yang lebih dekat dengan wilayah perkampungan Benjina.

Sebagai suatu kawasan hasil pemekaran wilayah, Kota Dobo memang sedang menggeliat dengan berbagai bentuk pembangunan. Namun, tak bisa disangkali bahwa di balik segala hiruk-pikuk pembangunannya terselip di sana-sini kisah-kisah pilu orang-orang yang merasa terpinggirkan dan merana. Imajinasi pembangunan pun luruh jika orang tahu bahwa di kawasan yang kaya raya dengan hasil laut ini banyak sisi kehidupan yang miris dan mengenaskan namun mengendap di bawah permukaan realitas sosial dan kebudayaan masyarakat Aru. Berjubel kapal-kapal ikan dengan berbagai bendera perusahaan dan/atau negara yang berlabuh di perairan Dobo (Pulau Wamar). Namun, tentu saja jika ditelusuri tak satu pun yang dikelola oleh orang Aru.

Pernah dengar nama Benjina? Silakan anda menanyakannya kepada mbah google. Di Benjina pernah beroperasi sebuah perusahaan perikanan besar dengan nama PT Pusaka Benjina Resources (PBR). Ada kasus yang terjadi hingga membuat Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menutup operasi perusahaan ini. Terlepas dari segala analisis dan pertimbangan dari menteri, tapi dampak penutupan PBR sangat dirasakan oleh masyarakat setempat yang untuk sejenak menikmati secercah harapan menggeliat bangkit dari keterpurukan ekonomi yang mereka jalani selama puluhan tahun. Apa mau dikata, kini mereka harus menelan ludah kepahitan dari morat-maritnya harapan-harapan yang sempat mereka impikan. Dari Benjina, tampak sisa-sisa kejayaan perusahaan tersebut yang membisu dengan deretan kapal-kapal ikan yang hanya berlabuh menjadi besi tua menunggu saat berkarat dan tenggelam sendiri.

Wajah Benjina dan Dobo tak simetris dengan "kemeriahan" para pemburu "harta" di laut biru Aru. Suatu kawasan yang menjadi arena perburuan mutiara klas-1 dan limpah-ruah isi perut laut Arafura. Orang-orang Aru tampaknya tak kunjung lepas dari pencitraan historis sebagai "orang-orang kalah" seperti yang pernah digambarkan oleh Roem Topatimasang dkk dalam hasil penelitian mereka tahun 1993 bertajuk "Potret Orang-Orang Kalah". Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasi dengan judul "Orang-Orang Kalah: Kasus Penyingkiran Masyarakat Adat Kepulauan Maluku (Insist Press 2004).

Beta percaya ada banyak catatan menarik dan "panas" yang telah diguratkan oleh 34 mahasiswa dari pengalaman mereka berjibaku dengan realitas kehidupan 16 masyarakat negeri di kawasan Aru Tengah. Semoga saja mereka tidak hanya menorehkannya sebagai suatu "kewajiban" studi mereka tapi sungguh-sungguh merekamnya dengan kegelisahan akan berbagai ketimpangan yang nyata di depan biji mata.

Terima kasih untuk saudara-saudaraku Pdt. Sonny Romkeny (Ketua Klasis Aru Tengah) dan Pdt. Peter Manuputty (Sekretaris Klasis Aru Tengah), Pdt. Adolof Fariman dan Pdt. Henkie Mussa (Sekretaris Klasis Pulau-Pulau Aru), termasuk Achy Mussa yang rela meminjamkan sepedamotor matic-nya untuk berkeliling menelusuri sudut-sudut Kota Dobo, serta rekan-rekan pendeta yang telah menjadi mentor-mentor hebat bagi 34 mahasiswa Fakultas Teologi selama dua bulan mereka belajar "mengalami teologi kehidupan" orang Aru.

Catatan kecil ini sekaligus menjadi suatu penanda "demarkasi" dari karya komprehensif Patricia Spyer dengan disertasi antropologinya "The Memory of Trade: Modernity's Entanglements on an Eastern Indonesian Island" (2000) yang digarap dengan kajian arsip dan etnografi selama lebih dari 2 tahun. Suatu "demarkasi" untuk menguji tesis Spyer sekaligus mendeteksi perubahan-perubahan mutakhir di Kepulauan Aru: adakah orang Aru turut menikmati segala bentuk perubahan yang terjadi ataukah terus digulung dalam jeratan korban sejarah dan modernisasi itu sendiri?
Read more ...

Wednesday, May 16, 2018

ICRPC 2018


Terima kasih yang dalam kepada rekan-rekan panitia dan semua yang telah membantu dalam berbagai bentuk sejak persiapan awal hingga akhir pelaksanaan International Conference on Religion and Public Civilization (ICRPC), 3-5 Mei 2018 di Hotel Pacific Ambon. Pengorbanan dan kerja keras kita semata-mata bukan demi prestise kelembagaan melalui konferensi ini, namun yang terlebih fundamental adalah mengawali suatu proses membangun atmosfer akademik yang sehat untuk bertukar gagasan sekaligus mekanisme saling kritik yang menghidupkan.

Sekali lagi, ini barulah awal. Masih panjang proses yang harus dijalani bersama-sama ke depan. Tentu saja, tidak sedikit tantangan yang harus kita hadapi sebagai lecutan motivasi, koordinasi dan eksekusi agar perjumpaan-perjumpaan semacam ini makin memanas sebagai arena mematangkan kultur akademik di kalangan jejaring komunitas kampus-kampus di Maluku.

Ada sembilan pembicara utama yang diundang dalam konferensi ini. Mereka adalah Prof. Dr. Dieter Bartels (antropolog dari Arizona USA), Prof. Dr. Ruard Ganzevoort (Vrije Universiteit Amsterdam), Prof. Dr. Bernard Adeney-Risakotta (ICRS Yogyakarta), Prof. Dr. Hermien Soselisa (Universitas Pattimura), Alissa Wahid (Jaringan Nasional Gusdurian), Prof. Dr. Al Makin (UIN Sunan Kalijaga), Tri Subagya, Ph.D (Universitas Sanata Dharma), Dr. Subair (IAIN Ambon) dan Dr. John Ruhulessin (UKIM Ambon). Selama dua hari pertama para pembicara utama tersebut mengajak merefleksikan sejumlah paradigma yang perlu dipertimbangkan oleh kerja-kerja keilmuan lintas-disiplin. Butir-butir reflektif tersebut memperkaya diskusi di klas-klas parallel sessions.

Meskipun beberapa rekan dosen dari kampus-kampus di luar Maluku terkendala oleh biaya transportasi yang tak digelontorkan oleh otoritas kampus mereka atau alasan-alasan lainnya, namun semangat mereka nyata dari mengalirnya makalah-makalah mereka kepada panitia. Sebagian lain pemakalah bisa datang untuk berbagi hasil-hasil riset mereka dalam konferensi ini. Parallel sessions yang digelar sejak hari pertama menjadi ajang diskursus keilmuan dari berbagai perspektif.

Dari kampus mungil UKIM, kami memulai langkah-langkah kecil bersama dengan mimpi-mimpi besar.

Mena Muria!
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces