Aku menulis maka aku belajar

Friday, December 7, 2007

Marinyo dan Andarinyo

Dalam kosmologi orang Maluku, tete-nene moyang berada dalam posisi ambang (liminal). Istilah ini dipopulerkan oleh Victor Turner berdasarkan hasil penelitian antropologis mengenai pola hidup dan kebudayaan salah satu suku di Afrika. Turner menemukan bahwa seluruh interaksi social dan pola-pola kebudayaan masyarakat suku itu selalu berada dalam krisis yang membutuhkan sebuah moderasi di antara jejaring makna hidup manusia. Ritual-ritual yang dilakukan sebenarnya bermuara pada dua hal penting: (1) menjaga keseimbangan relasi-relasi substansi kosmos; dan (2) menyiasati krisis sebagai mekanisme alamiah yang membawa manusia pada pemaknaan-pemaknaan baru dalam ranah kebudayaannya. Di sinilah Turner melihat liminalitas sebenarnya merupakan konseptualisasi kultural yang menggiring pada masyarakat bebas struktur.

Struktur sosial (atau struktur apapun), dalam interpretasi Turner, hanya menjadi sebuah mediator bagi pertautan jejaring makna dalam kehidupan manusia. Struktur tidak pernah rigid atau baku. Dia selalu berada dalam “lingkaran hermeneutis” (terminology George Gadamer) atau “eksternalisasi-objektivasi- internalisasi” (terminology Peter Berger). Struktur bentukan manusia selalu berada dalam “krisis” yang membuatnya selalu berada dalam posisi ambang atau liminal. Dalam kerangka pikir ini, struktur penalaran (rasionalitas) manusia pun tak pernah terkristal secara padat. Selalu ada kelenturan-kelenturan untuk beradaptasi dengan krisis-krisis yang dialaminya. Dalam masyarakat “bebas struktur” setiap manusia tidak terbelenggu dalam fragmen-fragmen budaya yang parsial. Seluruh kosmos dilihat sebagai jejaring relasional antar-substansi kosmos. Tidak ada batas secara riil. Batasan yang ada hanya sebuah rekayasa rasional manusia untuk memahami realitas parsial.

Kembali pada tete-nene moyang. Selama ini kita, melalui rasionalisasi atas nama teologi Kristen, melakukan pembatasan-pembatasan pada aras kognisi untuk menerima satu realitas parsial dan mendiamkan realitas-realitas kosmos yang lain (atau yang oleh Franz Wijsen disebut “realitas meta-empiris”).[1] Hal ini tentu mesti dipahami dalam konteks sejarah ruang dan waktu tertentu. Pemahaman-pemahaman teologis yang kita adopsi harus dilihat sebagai sebuah euforia Pencerahan yang membawa serta keagungan-keagungan peradaban Barat (dengan rasionalitasnya), yang kawin-mawin dengan gagasan-gagasan teologi para zending.

Evangelisasi pada abad-abad yang lampau sebenarnya telah menciptakan benturan peradaban yang hebat. Namun karena berlangsung dalam piranti kolonialisasi, benturan peradaban tersebut kemudian terbungkus dalam “kebisuan”. Kendati demikian, memori kolektif masyarakat tetap mempersoalkannya sebagai proses hermeneutik sosio-kultural yang tak pernah usai. Dalam kosmologinya, orang Maluku memposisikan entitas tete-nene moyang sebagai yang bermatra ganda: tete-nene moyang itu bukan “orang” dan bukan “Tuhan”. Entitas ini berada pada posisi liminal (ambang). Kesadaran cultural ini membentuk sebuah struktur penalaran yang lentur dalam memahami sebuah “realitas”. Kosmos adalah sebuah wilayah tak terbatas yang dalamnya manusia merayakan kekayaan khazanah ekspresi budayanya. Oleh karena itu proses mediasi (penjembatanan) hubungan antar-substansi kosmos terus berlangsung (atas/bawah, ke laut/ke darat, dsb).

Apa implikasinya dalam kehidupan sosial orang Maluku? Contoh paling kentara ialah idiom “sagu salempeng dipata dua”. Idiom budaya lokal menunjukkan pada dua realitas: konflik dan akomodasi; baku malawang dan baku polo. Sagu adalah lambang hidup orang Maluku. Dan ketika ia dibagi dua, itu sebenarnya menunjuk pada adanya krisis hidup. Tetapi krisis hidup itu kemudian secara sadar membawa pada sebuah tindakan sharing (berbagi) agar basudara lain juga menikmati hidupnya bersama-sama. Liminalitas dinikmati sebagai sebuah keniscayaan social. Dalam kondisi itu, moderasi-moderasi dibutuhkan agar setiap krisis membawa pada pemaknaan hidup yang baru.

Di manakah struktur? Struktur bergerak secara elastis untuk menampung gerak perubahan yang tak terelakkan. Jadi “relasi antar-substansi kosmos” lebih diutamakan ketimbang “struktur”. Struktur hanya menjadi penting sebatas difungsikan sebagai “moderator” bagi terjaganya jaringan makna; bukan malah mereduksi makna hidup itu sendiri.

Jika seluruh perspektif kebudayaan itu diletakkan pada proporsi kritis dalam membaca fenomena kepemimpinan gereja di Maluku, maka kita akan tiba pada dua hal:

(1) Kualitas manusia. Kualitas manusia yang dimaksud bukan hanya dalam arti particular sebatas kualitas intelektual. Kapasitas intelektual penting, karena tanpa itu seluruh proses akan kehilangan pendasaran-pendasaran rasionalitasnya. Tetapi yang tidak kalah penting ialah kapasitas emosionalnya dalam menjelajahi dinamika persoalan-persoalan yang dihadapinya.

(2) Kapabilitas struktur. Struktur kepemimpinan tidak boleh terpenjara dalam sekat-sekat artificial yang menghambat kelenturannya. Struktur kepemimpinan, bila mau diidealkan, harus menjadi perangkat moderasi jejaring makna agar krisis-krisis yang dihadapi mampu disiasati sehingga menjadi “makna baru”. Demikian seterusnya.

Kualitas manusia dan kapabilitas struktur menjadi acuan utama kita dalam merancang-bangun perspektif menggereja kita di masa depan. Keterjebakan pada pesona figure pada gilirannya hanya membatasi jarak pandang kita terhadap horizon masalah yang sedang kita geluti. Sebaliknya, aksentuasi berlebihan pada kapabilitas struktur malah akan bermuara pada upaya menafikan kualitas manusia demi mengamankan struktur atau kebijakan. Proses moderasi macet dan membekukan relasi-relasi kemanusiaan.

Di sinilah kepemimpinan gereja (GPM) diletakkan sebagai proses bergumul dalam lumpur bersama jemaat-jemaat dan seluruh realitas kemanusiaan. Dalam beban persoalan gereja yang begitu berat, kita tidak membutuhkan kepemimpinan berkarakter marinyo,[2] yang bisanya hanya berkoar-koar atau berkhotbah dengan intonasi yang dibuat-buat untuk memberi kesan wibawa, tanpa suatu perspektif fundamental mengenai gelutan jemaat-jemaatnya. Kita tidak mungkin juga membutuhkan kepemimpinan berkarakter andarinyo,[3] yang tidak tahan duduk lama untuk mendengarkan keluh-kesah jemaat-jemaat atau pergumulan kemanusiaan. Mau yang mana? Ini hanya sebuah tawaran.



[1] Franz Wijsen, There is Only One God: A Social-Scientific and Theological Study of Popular Religion and Evangelization in Sukumaland, Northwest Tanzania (Kampen, 1993), hlm. 78-88.

[2] Dalam struktur pemerintahan masyarakat adat di Maluku (Saniri Negri), marinyo tabaos (memberitakan pengumuman dengan suara keras). Dia harus berusaha “menerjemahkan” keputusan Saniri Negri ke dalam terma-terma yang dimengerti oleh masyarakat negri. Dalam konteks ini, fungsi marinyo dapat dianalogikan dengan fungsi Dewa Hermes dalam mitologi Yunani yang menjalankan fungsi sebagai “pembawa berita atau pengumuman dari Saniri Negri”. Marinyo akan berjalan ke seluruh pelosok negri untuk tabaos (berteriak) memberitakan pengumuman bagi warga negri.

[3] Andarinyo adalah capung (dragonfly). Hewan ini biasa dipakai dalam idiom lokal untuk menggambarkan “ketidakbetahan seseorang dalam mendalami suatu pokok atau masalah”: macam andarinyo colo panta (seperti capung yang hanya menyentuhkan ekornya di atas permukaan air dan terbang lagi).

No comments:

Post a Comment

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces